Istighfarlah

Sifat iri emang bikin ngos2an, astaghfirullah…

Dalam kemajuan teknologi, byk gadget yg berperan membawa qt melintasi batas imajinasi yg bahkan tak terfikirkan sebelumnya. Bahkan kita akan sangat mudah melihat aktifitas teman lama yang sudah lama tak jumpa, bisa kita lihat apa yg sedang dia lakukan terdokumentasi di akun sosial media miliknya.

Rasa senang karna tahu kabarnya tergambar secara deskriptif, sedih menuju iri karna dia bisa terlihat bahagia dr saya (terlihat dr beberapa moment kebahagiaan dr setiap foto yg dia posting). Miris memang jika sifat iri lebih banyak dr rasa bahagia, tapi itulah manusia yg terkadang melihat dari luarnya saja.

Bisa saja teman lama
hanya membagikan kebahagiaannya saja, padahal… (Ya begitulah). Alhasil, saya pun menarik nafas panjang2, menutup mata dan beristighfar, astaghfirullahal’adzim…

Tutup mata, dan bersyukurlah…
Tutup mata, dan mengobrollah dengan Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT).

Melawan Stereotipe!

Sabtu, 22 November 2014 dengan diiringi hujan deras yang mengguyur sejak siang tadi dan membuat badan ini terbuai untuk merebahkannya diatas karpet. Sejenak sambil rebahan saya memegang Hp dan membuka pemberitahuan yang ada di Facebook dan melihat foto yang sudah di “Taq” oleh seorang ustad/guru (Rohman Asan/Ustad Oman) semasa SMA dulu. 

Alhasil foto itu sukses membuat saya mengingat kembali perjuangan dimasa itu yang menginginkan menjadi anggota pengibar bendera merah putih pada hari kemerdekaan RI atau biasa disebut PASKIBRA, ditengah pandangan orang dan ketatnya peraturan yang menjadi siswa dan sekaligus santri di sebuah pondok pesantren modern Nur El-Falah Kubang Petir Serang Banten. Padatnya kegiatan pesantren ditambah jadwal dan tugas-tugas sekolah tak mengurangi tekad dan niat untuk mau mencoba menjadi seorang PASKIBRA. 

Tak jarang saya harus menghampiri pimpinan pondok (disamping meminta izin rutin untuk latihan PASKIBRA kepada ustad/guru ponpes) untuk meminta izin jika ada event yang berkaitan dengan PASKIBRA baik diwilayah Kecamatan maupun di Kabupaten. Perjuangan meminta izin dan meyakinkan pimpinan itulah yang menurut saya patut dikenang pada saat dimasa sekarang. 

Tanpa disadari, mungkin saya menjadi pengubah stereotipe* pada masa itu. Heheheee.. Paling tidak saya bisa membuktikan kalau ternyata seorang siswa yang sekaligus menjadi seorang santri juga bisa meraih apa yang diimpikannya pada masa itu. Dan teringat akan seorang santri yang mengatakan bahwa dia juga telah mengikuti jejak saya menjadi seorang PASKIBRA disana. Alhamdulillah…

Semoga ini menjadi sumber tumbuhnya tunas semangat untuk melawan stereotipe yang menjadi penghalang disaat ingin menggapai apa yang dicita-citakan. 

*Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok dimana orang tersebut dapat dikategorikan.

Hikmah DUFAN!

Sebenarnya tak terlintas apa isi pesan yang akan didapat (hikmah) setelah sejenak menghilang dari rutinitas pekerjaan dikantor dan memutuskan untuk pergi ke Dunia Fantasi (DUFAN) dikala hari libur. Selain bertujuan untuk menghilangkan rasa jenuh setelah sepekan berkutat dengan pekerjaan, tapi juga untuk mendapatkan kartu Annual Pass DUFAN. Hee

Dari sekian banyak wahana yang dinaiki dan mengalami proses mengantri yang cukup panjang serta lama, ada moment yang mana pada saat mengantri di depan salah satu wahana teman mengatakan apa yang sedang dia rasakan pada saat itu. Tepat di depan wahana Roller Coaster pada saat mengantri dan melihat serta mendengar jeritan para penumpangnya, helmi (teman) berkata

“bagaimana kalau kita sedang mengantri di depan pintu neraka, mungkin rasa takut dag dig dug menanti hukuman yang sekaligus mendengar jeritan disini sama kali ya”!. 

Sejenak saya pribadi kaget dengan kepekaan dia memberi perumpamaan yang tidak terfikir sedikit pun. Tapi, saya pun membenarkan akan perumpamaan itu dan berkali-kali menganggukkan kepala. Karna, situasi yang mendukung dimana kami mengantri cukup lama dan banyak menyaksikan serta mendengar jeritan-jeritan yang bersumber pada wahana Roller Coaster yang melintas beberapa kali di depan mata. 

Agak berlebihan memang, tapi jika keberlebihan itu berdampak pada hal yang positif, mengapa tidak diambil untuk dijadikan sumber energi semangat yang akan memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.

Thanks banget sob, untuk semua kebahagiaan kemarin (29/5/2014) dan semoga kita bisa berintrospeksi ke arah yang lebih baik lagi. Aamiin..

….. dan tadi pagi melihat beranda Facebook yang pasti sudah di atur waktunya oleh Sang Pengatur Waktu (ALLAH SWT), saya melihat video yang telah di-share olehnya dari salah satu akun komunitas islami. Videonya sangat menyadarkan saya pribadi akan tetap istiqomah dalam jalan-NYA. Klik ini videonya!

Daripada Ngomongin Orang!

Kalimat itu terlintas sebenarnya saat saya berada di dalam angkutan umum (angkot) menuju pulang dari kantor. Yang biasanya dapat angkot sepi dari gosip dkk (karna penumpang rata-rata orang yang baru pulang kerja & memanfaatkan istirahat sejenak di angkot), tapi sore itu dapat angkot yang 2 penumpangnya bersemangat sekali untuk berbincang-bincang di pojokan kursi angkot. Sempat skeptis sih, tapi ya sudahlah nikmati saja.

Selang beberapa menit, tak sengaja mendengar percakapan mereka ternyata sedang membicarakan tingkah laku orang lain yang sebenarnya tidak layak untuk diketahui orang. Sepintas mata ini melihat kearah mereka yang sedang asyik membicarakan aib orang lain itu dan hati ini tanpa perintah pun mengatakan “lebih baik ngomong itu nggak benar & gue nggak lakuin itu, daripada harus ngomongin orang”!. 

Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin

Presentasi Diri

Dua kata ini kudapat dari seorang manajer yang sedang menyampaikan materi tentang “Business Presentation Skill” disuatu ruangan disore hari. Materi ini memang sudah kutunggu-tunggu sebelumnya semenjak setelah beberapa kali melakukan presentasi didepan beliau dengan hasil yang kurang memuaskan. Alhasil sebelum meminta untuk diberikan materi mengenai presentasi, beliau sudah menawarkan untuk mengatur jadwal perihal penyampaian materi ini. Alhamdulillah..

Presentasi diri ini terucap ketika beliau memberikan beberapa contoh mengenai perwujudan presentasi dikehidupan sehari-hari, karna presentasi itu maknanya luas bukan hanya sebatas untuk orang dengan berpakaian rapih dan bersifat formal saja. Salah satu contoh konkritnya ketika kita menghampiri seorang manajer ke meja kerjanya untuk menanyakan suatu hal. Disitu akan terlihat bagaimana kita mempresentasikan diri dalam hal meminta bantuan untuk diberikan jawaban yang ingin kita tanyakan. Ada yang memakai pembuka kalimat meminta maaf karna telah mengganggu sebelumnya atau langsung menanyakan apa yang ingin ditanyakan. Secara tidak langsung kita telah mempresentasikan siapa diri kita sebenarnya, orang yang tak punya rasa hormat dsb. Sehingga image diri kita akan terbentuk jelas pada saat itu.

Presentasi diri erat kaitannya dengan pembuka kalimat yang kita ucapkan kepada setiap orang yang akan kita ajak bicara. Oleh karnanya pada saat kita sedang berkenalan atau mencoba membaur dengan orang yang belum kita kenal, sebenarnya kita sedang mempresentasikan diri kita sendiri dihadapan mereka.

Jika kita mempresentasikan diri dengan baik, maka image diri terhadap kita pun akan berdampak baik dan orang akan menyimpulkan bahwa kita adalah orang baik serta bukan tidak mungkin kita bisa dipercaya dan diandalkan.

 

Sekedar Kerja atau Aset Berharga

Membaca judulnya saja cukup memberikan niatan untuk membaca artikelnya saat itu. Artikel yang judulnya kusamakan ini diperolah dari seorang Direktur Srikandi Internusa (Ibu Lianny Hendranata) disebuah surat kabar. Tujuan dari penulisan ini tidak lain sebagai arsip penyemangat diri dikala sedang down sehingga bisa langsung meluncur ke blog sendiri dan membacanya.

Aset berharga disini adalah sosok yang dibutuhkan dan dihargai keberadaannya oleh perusahaan, karena kehilangan kita adalah sesuatu yang tidak diinginkan. Bagaimana menjadikan diri kita diposisi tersebut? Tentu membutuhkan usaha.

Aset berharga juga dapat diistilahkan sebagai “jiwa berharga”, harta tak ternilai bagi siapa saja yang menghargai keberadaannya. Ia dapat menyumbangkan pemikiran dan karyanya bagi perusahaan maupun lingkungan yang memberinya kesempatan untuk menunjukkan “kebolehannya” sebagai jiwa yang berharga.

Seorang office boy yang tidak terlihat tidak berpengaruh keberadaannya oleh perusahaan, sebenarnya juga jiwa berharga bagi perusahaan.  Karena seluruh perusahaan akan merasakan dampaknya bila ia tidak ada. Jiwa berharga ibarat kesehatan yang akan berdampak bila kehilangannya.

Kesimpulannya adalah bagaimana setiap individu bisa menjadi jiwa berharga dalam perusahaan, apabila memiliki :

  1. Integritas
  2. Loyalitas tinggi
  3. Dedikasi pada pekerjaan
  4. Punya tanggung jawab moral
  5. Bermental jujur
  6. Bersikap ingin maju dan berguna

Jika tidak berusaha atau memosisikan diri sebagai jiwa berharga, maka perusahaan dapat memangkas karyawan yang tidak efektif untuk dipertahankan keberadaannya. Oleh karenanya, tanyakan lagi pada diri sendiri, apa yang dikejar, pekerjaan atau penghasilan? Atau keduanya? Pekerjaan diasosiasikan sebagai jenjang karir yang harus diusahakan untuk terus meningkat. Penghasilan diasosiasikan sebagai harga, upah dari kerja keras kita, barometer dari karir itu sendiri. Jika ingin berpenghasilan besar, maka karir harus meningkat. Tidak akan bisa memiliki upah besar tapi bekerja sesuka hati. Semua ada hukum sebab akibat, ada aksi dan reaksi.

Pribadi, Pekerjaan & Cinta

Setiap orang pasti menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan pribadinya. Karna dengan demikian kita dapat mencintai pekerjaan & melakukannya sepenuh hati. Berbeda dengan orang yang melakukan pekerjaan tidak sesuai dengan kepribadiannya. Setiap hari ia akan mengeluh, berselisih dengan hati kecilnya sehingga ketidaknyamanan pun akan timbul.

Untuk mengetahui pekerjaan yang cocok dengan kepribadian, ada beberapa faktor yang dapat membantu kita untuk menemukannya. Pertama, bakat. Bakat sangat berperan dalam kesuksesan seseorang karena ini menyangkut kemampuan seseorang dalam menangani pekerjaan. Kedua, minat atau passion. Minat ini bisa menjadi motivasi yang kuat dalam bekerja. Oleh karena itu, dalam memilih pekerjaan hendaknya seseorang harus memperhatikan faktor minatnya agar ia dapat melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati. Adapun faktor ketiga, kemampuan. Kenali potensi diri untuk mengetahui seberapa besar kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan. Faktor keempat, kepribadian. Kenali kepribadian diri kita sendiri untuk menemukan tipe pekerjaan yang cocok dengan kita.

Bila kita tidak dalam posisi pekerjaan yang tidak atau belum kita sukai, maka hal yang perlu kita lakukan adalah

  1. Cintailah orang-orang yang bekerja disana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan. Bila kita tak bisa mencintai rekan-rekan kerja kita, maka
  2. Cintailah suasana dan gedung kantor kita. Ini mendorong kita untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi. Bila toh tidak bisa juga
  3. Cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ketempat kerja kita. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga. Namun, bila kita tak menemukan kesenangan disana, maka
  4. Cintai apa pun yang bisa kita cintai dari kerja kita : tanaman penghias meja, gumpalan awan dari balik jendela dll.

Bila tidak menemukan yang bisa kita cintai dari pekerjaan kita, maka mengapa kita ada disitu? Bila akhirnya kita hanya menjadi benalu disana. Bukan hanya kita yang dirugikan, tetapi perusahaan pun akan merasakan hal tersebut. Karena tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.

Referensi :

  1. Koran Sindo, rubrik Interview “Menemukan Pribadi yang Cocok dengan Pekerjaan”
  2. Motivasi NET, E-book motivasi “Temukan Cinta Anda” 

Menyuburkan Kebiasaan Positif

Kalimat itu terbaca disuatu artikel dirubrik “Karier” koran Kompas. Bicara soal kebiasaan positif, banyak kebiasaan positif yang dikonsistenkan di tempat kerja saya dahulu. Walau hati tak secara ikhlas untuk menjalankan kebiasaan itu, tetapi dengan berbedanya lingkungan yang sekarang saya jalani, secara mengalir saya telah melakukan beberapa kegiatan positif yang sebelumnya saya remehkan dulu.

Banyak sifat positif yang seharusnya disadari untuk dipertahankan menjadi kebiasaan yang mutlak ketika saya bekerja di tempat yang baru. Berbeda lingkungan memang, tapi kenapa harus dipertahankan untuk dijadikan sebuah alasan. Bukankah pengalaman sebenarnya berhakikat untuk mengajarkan dan memperlihatkan bagaimana sebaiknya menjadi pribadi yang lebih baik lagi?

Kebiasaan positif itu sepele memang, tetapi ini sudah membawa kata “kebiasaan” yang sudah tentu arti dari perilaku yang dilakukan berulang-ulang dan sudah sepatutnya untuk tidak memundurkan langkah disaat kita berkeinginan untuk menaiki tangga (menjadi pribadi yang lebih baik lagi). Contoh salah satunya adalah tepat waktu. Tepat waktu pada saat datang kekantor, balik dari waktu istirahat kerja dll. Jika bisa lebih awal, itu lebih bagus.

Selain dari artikel itu juga, saya mendapatkan nasihat dari teman kerja bahwa “Jangan membiasakan perilaku negatif yang sudah menjadi kebiasaan”.! Singkat tapi butuh waktu lama untuk menundukkan kepala tanda menyetujuinya. Hee

Seperti kata orang-orang pintar, tampung semua hal yang masuk dalam kehidupan dan saringlah semua hal positif pada saat kita beranjak dewasa serta jadikan hal positif itu sebagai pendirian hidup. Semoga tidak terlihat berlebihan, tetapi jika dianggap berlebihan anggaplah ini untuk mengingatkan.

Janganlah kita mematikan kebiasaan positif yang sudah kita lakukan sebelumnya. Suburkanlah kebiasaan positif itu sehingga menjadi budaya dan bisa ditularkan ke anak kita kelak.

Lembar pun Berlanjut

Ketika kebosanan di dunia kerja dirasakan dan kegalauan pun muncul, maka dengan sendirinya menghasilkan keinginan untuk mengundurkan diri dari rutinitasnya. Rasa dijiwa ini tak bisa lepas tanpa ada jawaban sebagai penggantinya. Setelah keputusan teman yang saya bicarakan di ulasan “Masih, rasa capek dijadikan alasan?” memutuskan untuk menjadi partner dikosan, kamipun sangat intens untuk tidak bisa membicarakan mengenai sudah sejauh mana pencapaian “Kualitas Diri” saat itu.

Rasa minder dan keinginan untuk mencapai lebih pun tak luput dari perasaan yang dirasakan saat mengetahui sudah sangat jauh saya tertinggal darinya. Tetapi rasa syukur itu timbul ketika dia memberikan motivasi dan jalan keluar untuk mendapatkan pengganti rutinitas yang sudah menyebabkan kebosanan serta kegalauan itu.

Proses keluar dari profesi lama dan mendapatkan profesi baru itu tidak berjalan dengan harapan. Walau begitu, teman terus memberikan motivasi untuk tetap semangat dalam memperjuangkan apa yang diinginkan. Kesempatan kedua untuk melamar di tempat pekerjaan itu pun datang dan tidakku sia-siakan. Persiapan untuk menghadapi tes pun dimanfaatkan semaksimal mungkin. Alhasil panggilan kerja pun dikonfirmasi dengan sangat jelas. Alhamdulillah..

Sebelumnya, pergantian keinginan itu sempat tak bisa diarahkan, mengingat rasa nyaman yang selama ini sudah melekat terlebih tidak rela untuk lepas dari rasa kekeluargaan di tempat kerja sebelumnya. Tetapi teman lebih menekankan perihal “Kualitas Diri” dan “Kesetaraan” pendidikan yang diperoleh dengan profesi jabatan yang sedang dijalani. Benar memang, kalau tidak dipaksakan mau sampai kapan menikmati kenyamanan di zona nyaman!.

Terima kasih teman karna sudah menyadarkan dan memberi pencerahan, terutama mengenai “Kualitas Diri & Kesetaraan”

Moment Tak Terimplementasikan

Keinginan untuk melaksanakan atau mengalami moment ini datang pada saat saya melihat sendiri momentnya. Moment yang membuat saya cukup touching my heart sekaligus buat mata ini intens berkedip, heheee. Dikala sore di tempat kerja, ada seorang bapak di depan saya yang sedang sibuk memilih botol minum yang mempunyai kelebihan tahan terhadap air panas. Tanpa canggung saya pun menghampiri dengan menyapa di awal dan memberitahukan keunggulan dari setiap botol-botol tersebut.

Dengan karakter ke-bapak-an yang sangat melekat, menjadi alasan untuk tidak bisa menghindar. Tetapi malah semakin akrab dan lumayan lama mengobrol mengenai product knowledge dari setiap botol termasuk keunggulan & kelemahan dari setiap produk tersebut.

Tak lama datang seorang pemuda yang seumuran saya menghampiri kami dan menyapa bapak sekaligus konsumen saya serta memberikan rasa hormat padanya. Mengetahui dia adalah anaknya, saya pun menghindar untuk memberikan ruang kerinduan pada mereka.

Melihat keakraban dan kehangatan antar keduanya, jujur saya jadi iri dan kangen dengan sosok seorang ayah. Di tambah moment yang sedang saya lihat ini belum sempat saya alami bersamanya. Moment berbelanja berdua sambil memilih barang terbaik untuknya adalah salah satu moment yang spontan ingin diwujudkan saat itu. Paling tidak membuatnya senang dengan segala kehangatan kita padanya yang beliau sendiri sudah memberikan itu pada kita dulu.

Walau tak bisa di implementasikan, tapi paling tidak saya merasakan bagaimana rasanya menciptakan moment yang berkualitas dan menyikapi peranan dari kedua tokoh itu. Saya sebagai anak yang belum bisa memberikan moment berharga pada seorang ayah hanya bisa menghimbau, agar ciptakan dan nikmatilah moment bersama orang-orang tersayang dengan maksimal dan berikan semua waktu kita untuknya di kala itu.

Bersyukurlah…